Labels

Showing posts with label Inspired Story. Show all posts
Showing posts with label Inspired Story. Show all posts

Wednesday, March 12, 2014

Ridho Suami.. Surga untuk Istri

MENGAPA RIDHO SUAMI ITU SYURGA BAGI PARA ISTRI...

1. Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan sering kala rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.

2. Suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah ibunya hingga dia beranjak dewasa.Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu,
perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

3. Suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu.Padahal dia tahu, di sisi ALLAH, engkau lebih harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya.Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi ALLAH.

4. Suami berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri.Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi.padahal bisa saja disaat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar.namun tetap saja masalahmu di utamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.

5. Suami berusaha memahami bahasa diammu,bahasa tangisanmu sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja.Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.

6. Bila engkau melakukan maksiat,maka dia akan ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri.

Semoga wanita yg membaca tulisan ini mendapatkan jodoh yg sholeh dan lelaki pula mendapatkan jodoh yg sholehah pula yg di Ridhoi ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala..

Aamiin ya Rabbal'alamin..

Untukmu yang sedang menanti


UNTUKMU YANG SEDANG MENANTI

~ Menanti itu bukanlah satu penyiksaan..
~ Menanti itu juga bukan satu beban..
~ Jika kita menantinya dengan ikhlas..

"....Sesungguhnya ALLAH sengaja menguji kita dengan melambatkan sesuatu yang kita dambakan..

"...Sebenarnya ALLAH telah mengatur sesuatu yang lebih baik untuk kita yang sedang menanti..

"...Menantilah dengan penuh kesabaran dan keimanan...

"...Kerana Insyaa Allah...akhir dari penantian itu adalah KEBAHAGIAAN...

"...Jangan pernah berhenti berdoa dan meminta..

"...kerana ALLAH lah yang Maha Memberi..maka tetaplah menanti dengan sabar akan jawaban-NYA...kerana janji ALLAH itu BENAR...YAKINLAH...!!"

Aamiin ya Rabbal'alamin..

Bersyukurlah dengan Yang Kau Punya

Pada suatu hari seorang murid bertanya pada gurunya :
Bagaimana mencari Cinta sejati?

Guru itu menjawab : "Berjalanlah lurus di taman bunga yg luas, petiklah 1 bunga yang terindah menurutmu, dan kamu jangan pernah berbalik ke belakang !"

Kemudian murid itu melaksanakannya dan kembali dengan tangan hampa..

Guru bertanya pada Murid : "Mana bunganya?"

Murid menjawab : "Aku tidak bisa mendapatkannya, sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku berfikir, di depan ada yg LEBIH bagus lagi.. ketika aku telah sampai di ujung taman, Aku baru sadar bahwa yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang.."

Guru : "Seperti itulah cinta sejati, semakin kau mencari yang terbaik, maka kau tak akan pernah menemukannya..

Cinta Tidak Harus dengan BUNGA

SEORANG ISTERI BERCERITA:

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, tanya suami saya dengan terkejut.

“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?”

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :
“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ……
“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”

“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.”

“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”

“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.

“Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.

Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu.”

“Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”

Tuesday, March 11, 2014

Rahasia Seorang Dokter

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan bersalin pakaian.

Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukah anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?”

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, “Saudaraku, saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda”.

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredakan amarahan si bapak, bahkan suaranya mengguntur, “Anda bilang apa? Tenang!? Sedikit pun anda tidak peduli rupanya, apakah anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat? –semoga Allah mengampuni anda– apa yang akan anda lakukan jika anak anda meninggal?”.
Sambil tetap mengulas semyum dokter menanggapi, “Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan Allah:

الَّذِينَ Ø¥ِذَا Ø£َصَابَتْÙ‡ُÙ…ْ Ù…ُصِيبَØ©ٌ Ù‚َالُوا Ø¥ِÙ†َّا Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ ÙˆَØ¥ِÙ†َّا Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِ رَاجِعُونَ
 
“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan, ‘Kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali”.

Dokter itu melanjutkan, “Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman?
Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga dapat memendekkannya; Usia di tangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah, oleh karena itu jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan ucapkanlah ‘inna lillahi wa`inna ilaihi raji’un. Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushalla rumah sakit untuk melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar Ia menyelamatkan anak anda”. Tambahnya.
Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, “Nasehat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda”.

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergesa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien, “Berbahagialah Pak, al?amdulillah, operasi berjalan lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci.”

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain, tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat. Seketika orang tua anak itu berkata, “Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikit pun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?”

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata, “Kemarin putra beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan putranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda.”

YA ALLAH RAHMATILAH HATI YANG MESKI TERLUKA, NAMUN TIDAK BERBICARA
 
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Rumah Untuk Orang Tuaku

Sebuah Perenungan..

Suatu hari, seorang ibu duduk membantu anak-anaknya mengulang-ulang pelajaran sekolah mereka. Ia memberikan sebuah buku gambar kepada anaknya yang masih kecil berusia empat tahun agar tidak mengganggunya dalam memberi penjelasan dan pelajaran kepada saudara-saudaranya yang lain.

Saat itu ia teringat bahwa ia belum menyiapkan makan malam untuk mertuanya yang sudah berusia lanjut yang hidup bersama mereka dalam sebuah kamar yang kecil yang khusus dibuat di luar rumah, yang terletak di beranda rumah mereka.
Biasanya dialah yang melayani dan mengurusnya selama ini. Dan suaminya merelakan ia melayani dan mengurus orang tuanya yang sudah tidak bisa beranjak dari kamarnya karena kesehatannya yang sudah menurun.

Maka iapun bergegas menyiapkan makanan untuknya sebelum pergi. Ia bertanya kepada mertuanya kira-kira bantuan apa yang bisa dilakukannya? Kemudian iapun pergi dan kembali mengurus anak-anaknya sebagaimana biasa.

Ia memperhatikan anaknya yang berusia 4 tahun yang sedang menggambar lingkaran dan kotak bujur sangkar lalu meletakkan tanda padanya. Si ibupun bertanya kepada anaknya, “Apa yang sedang engkau gambar nak?”

Si anak menjawab dengan polos, “Aku sedang meng­gambar rumah yang akan aku tempati sesudah aku besar dan menikah nanti.”

Jawaban anaknya membuat hati si ibu merasa gembira.
Kemudian si ibu bertanya lagi, “Dimanakah engkau akan tidur?” Kemudian si anak menunjukkan kotak-kotak bujur sangkar dan mengatakan, “Ini adalah kamar tidur, yang ini ruang dapur dan ini adalah ruang tamu.” Iapun menyebutkan satu persatu yang ia kenali di dalam ru­mahnya. Ia tidak menyisakan sebuah ruangan pun yang ada di dalam rumah dari gambarnya itu, seluruh ruangannya ia gambar. Kemudian anak tadi menggambar sebuah kamar yang kecil berada di luar rumah.

Si ibupun kagum dengan anaknya. Kemudian si anak berkata kepadanya, “Kamar di luar rumah ini untuk ummi, aku akan memberikannya kepada ummi untuk ditinggali seperti halnya kakek.”
Betapa terkejutnya si ibu mendengar celotehan anaknya itu.
Dalam hati, ia berkata, “Apakah kelak aku akan ditinggal seorang diri di luar rumah? Di bilik kecil di pekarangan rumah tanpa bisa bersenda gurau bersama anak dan cucuku? Tidak bisa mengobrol, bercanda dan bermain bersama mereka ketika aku tidak mampu lagi bergerak? Siapakah yang dapat aku ajak bicara ketika itu? Apakah aku harus menghabiskan sisa hidupku seorang diri berteman dinding tanpa bisa mendengar canda tawa sanak keluargaku?”
Iapun segera memanggil pembantunya agar memindahkan perabot di ruang tamu. Biasanya ruang tamu adalah ruangan yang paling bagus dan paling indah dalam sebuah rumah.
Iapun segera memindahkan tempat tidur mertuanya ke kamar tamu setelah memindahkan perabotan ruang tamu tersebut ke kamar yang berada di halaman rumah.

Ketika suaminya pulang betapa terkejut dan herannya ia dengan apa yang dilihatnya. Iapun bertanya kepada istrinya mengapa ia merubah desain ruang tamunya?
Iapun menjawab dengan air mata berlinang dari kedua matanya. Ia berkata, “Aku sengaja memilih ruangan yang paling bagus untuk kita apabila kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita umur panjang dan kita tidak mampu lagi bergerak. Dan biarkanlah ruang tamu berada di pekarangan rumah.
Si suamipun paham apa yang dimaksud oleh istrinya. Iapun memuji tindakan istrinya terhadap orang tuanya, yang memandangi mereka dan tersenyum dengan pandangan penuh keridhaan.
Lantas si anak menghapus gambarnya dan ter­senyum….
Dikutip dari kitab Qishahs Muatstsiratu fi Bir wa ‘Uquuqul Walidain dan telah di terbitkan oleh At-Tibyan dalam edisi Indonesia.

Sepenggal kisah di atas kiranya dapat dijadikan cerminan bagaimana menjadi anak yang berbakti dan menghargai orang tua kita. Sekaligus menjadi orang tua yang dapat diteladani bagi anak-anaknya. Orang tua teladan berarti orang tua yang dapat memberi; kasih sayang, perlindungan, perhatian, empati, keteguhan, kejujuran, pengertian, rasa aman, dukungan dan pujian kepada anak-anaknya. Sungguh, barangsiapa yang menanam kebaikan pasti akan memanen kebaikan pula, sebaliknya barangsiapa yang menanam kejelekan pasti ia akan memanen kejelekan pula.

Percakapan Seorang Pemuda dan Ibu

Seorang pemuda terpelajar sedang bepergian dengan naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta. Di kursi sampingnya duduklah seorang ibu separuh baya dengan pakaian sederhana.
Untuk memecahkan keheningan, si pemuda menyapa dan mengajak ibu itu ngobrol.


“Ibu, ada acara apa ke Jakarta?”
“Oh, saya ke Jakarta untuk “connecting flight” ke Singapura, dik. Mau menengok anak saya yang kedua. Dia bekerja di sana” jawab si Ibu.
“Wah, hebat sekali putra ibu”
Karena rasa ingin tahu yang besar, si pemuda mulai mengorek informasi lebih dalam tentang ibu dan keluarganya itu.
“Kalau saya tidak salah dengar, anak yang di Singapura itu anak kedua ya, Bu? Lalu di mana dengan kakak dan adik2nya?”
“Oh ya, anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat bekerja di perkebunan di Lampung. Yang kelima arsitek di Jakarta. Yang keenam menjadi kepala cabang bank nasional di Purwokerto dan yang ketujuh menjadi dosen di sebuah PT terkemuka di Semarang” jelas sang ibu.
Pemuda itu benar2 takjub, bagaimana sang ibu bisa mendidik anak2nya dengan baik.
Tapi pemuda itu kemudian bertanya, “Lho, yang pertama di mana bu?”
Sambil menghela nafas panjang, si ibu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, Nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar” jawab ibu dengan mata yang menerawang.
“Eh, maaf bu ya, sepertinya ibu agak kecewa dengan anak yang pertama. Karena adik2nya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia hanya seorang petani”
Lebih takjub lagi sang pemuda ketika mendengar jawaban sang ibu…
dengan tersenyum ibu itu menjawab,


“Oooh, tidak begitu nak, justru saya PALING BANGGA dengan anak pertama saya. Karena dialah yang membiayai sekolah semua adik2nya dari hasil dia bertani, dia pula yang memotivasi adik2nya untuk terus berprestasi di pendidikannya hingga dapat meraih beasiswa ke pendidikan tinggi”
Pemuda itu terbengong….


Sahabat, semua orang di dunia ini begitu penting, apapun posisinya. Kadang seseorang yang terlihat remeh ternyata memiliki sesuatu yang luar biasa, jasa yang amat menentukan yang kadang di luar dugaan kita….


Maka, yang paling penting bukanlah SIAPAKAH KAMU? tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN…


Sumber: http://www.facebook.com/ShafaPublikaCommunity

Inilah Janji Kami

Janji Sepasang Suami Istri (*Dalam Keridhoan)

Seorang isteri menangis ketika memandikan jenazah suaminya .. sambil menangis isteri berkata,

” Inilah janji kami sebagai suami isteri ..
Jika abang pergi lebih dulu maka engkaulah yang memandikan jenazah abang, Andai engkau yang pergi dulu dari abang, abang yang akan memandikan jenazahmu …”
Dari luar bilik mayat hospital, seorang ustadz masuk dan bertanya apakah istrinya mau memandikan jenazah suaminya .. ustadz tadi bersama beberapa orang menemani si isteri memandikan jenazah suaminya ..

Dengan tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa,
” Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayang padamu …
Wahai suamiku .. Semoga Allah ampunkan dosamu dan satukan kita di akhirat nanti ..”

Saat membasuh tangan jenazah suaminya sambil berkata ..
“Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami … semoga Allah beri pahala untukmu wahai suami ku ..”
Saat membasuh tubuh jenazah suaminya, iapun berkata…

” Tubuh inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak-anakku .., semoga Allah beri pahala berganda untukmu wahai suamiku …”

Kemudian saat membasuh kaki jenazah suaminya, kembali ia berkata..
” Dengan kaki ini abang keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku … semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat kali ganda ..”
Selesai memandikan jenazah suaminya, si isteri mengecup sayu suaminya dan berkata ..

“Terima kasih suamiku .. karena aku bahagia sepanjang menjadi isterimu dan terlalu bahagia .. dan terima kasih karena meninggalkan aku bersama permata hatimu yang persis dirimu .. dan aku sebagai seorang istri ridha akan kepergianmu karena kasih sayang Allah kepadamu …”

Sumber: http://on.fb.me/19HiskL (dengan perubahan)

Sepenggal Doa Ibunda

Kasih Bunda Sepanjang Masa..

“Masa silam saya kelam,” ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan.


“Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,” lanjut pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu. Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.

“Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,” tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang diiris-iris untuk diisap darahnya.
Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus disodori barang-barang terlarang.
Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis benar-benar mencengkeramnya.

“Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,” akunya. “Namun, ibu saya tidak setuju,” paparnya sendu mengenang hal itu.
Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan. Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.
Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga tercoreng.
Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap sabar. “Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi kelembutan kepada saya,” kenangnya. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.
Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk, sujud, zikir, dan doa. “Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya tatap ibu yang terselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau berkedip. Saya tatap terus ibu,” ucapnya sungguh-sungguh.

Ia melanjutkan, “Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan. Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya bertobat,” kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.
Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis. Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh. Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna. Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Kisah di atas nyata, diungkapkan langsung kepada penulis sekitar tahun 1980-an.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam ash-Shahihah no. 598 dan 1797)

[kisah ini diambil dari tulisan panjang Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin berjudul: Sepenggal Doa Ibunda, dalam majalah Asy Syariah no. 76/VII/1432 H/2011, hal. 29-30]

Ane Mewek Baca Kisah ini....

Ane Mewek Baca Kisah Ini... 
*Ngerasa kecil bgt jd manusia..

Barusan ane istirahat makan di kantor ane,kebetulan kantor ane di daerah yang lumayan ‘minus’ sih gan.. kalo agan-agan yang ada di Jakarta mungkin tau daerah Stasiun Kota kaya gimana.
Banyak pengemis, gelandangan dan orang-orang yang tingkat kehidupannya (maaf) dibawah kesejahteraan.
Sebelum nyari makan, ane beli rokok dulu gan biar tar abis makan ga bingung nyari rokok.. Ane nyalain satu batang..
Sambil ngerokok ane jalan buat nyari tempat yang enak buat duduk dan makan.
sampe akhirnya ane nemu sebuah tempat yang menurut ane enak dan teduh,ane celingukan soalnya semua tempat duduk uda dipake orang-orang.
Di sela-sela celingukan ane, seorang bapak tua bilang ke ane:

“Silakan pak, disini aja duduk sama saya” katanya..
ane iyain aja gan, meskipun rada panas tapi yang ada cuman disitu doang..
Ane perhatiin bapak itu gan, orangnya uda tua banget, kurus, giginya uda ompong,rambutnya uda putih semua, bawa-bawa tas besar ama kresek isinya plastik-plastik gitu..
Ane ga sempat foto gan,ga enak juga kalo ane moto2, tar dikira apaan..
Dimulailah obrolan ane ama bapak itu gan,

Ane : A
Bapak: B
A: lagi nunggu apa pak?
B: nggak mas, ini cuma duduk-duduk aja abis cari sampah seharian.. capek..
A: Jalan dari jam brapa pak?
B: dari pagi mas, uda lumayan banyak dapetnya ini..
A: oohhh…
Obrolan sempat brenti bentar gan, ane nikmatin rokok, bapaknya ngerapiin plastik2nya gitu..
Sampe pada akhirnya ane liat si Bapak pijet2in kepalanya gitu sambil hela napas panjang..
A: pusing ya pak? siang2 panas gini emang bikin pusing..
B: (ketawa kecil) iya mas.. agak pusing kepala saya..
A: bapak ngerokok? ini kalau bapak mau.. (sambil ane sodorin rokok ane yang tinggal sebatang)
B: nggak mas makasih, saya nggak ngerokok.. sayang uangnya,mending buat makan daripada beli rokok.. lagian ga bagus juga buat badan.
Dalem ati gw rada tertohok juga gan..
A: iya juga sih pak.. (nginjek rokok ane)
Abis itu gw denger suara perut gan.. *kruuuuukk* gitu..
gw spontan noleh ke arah si bapak.
A: Bapak belum makan pak?
B: (senyum) belum mas, aga nanti mungkin..
A: wah, tar tambah pusing pak?
B: iya mas, saya udah biasa kok..
ga lama, kedengeran lagi bunyi perutnya gan..
A: Bapak beneran ga mau makan pak?
B: iya mas,nanti aja…
gw uda ngerasa kalo bapak ini bukannya ga mau makan gan,tapi beliau ga punya uang buat makan..
A: bentar ya pak, saya ke warung dulu pesen makan..
B: oh.. iya mas, silakan..
ane nyamperin tukang nasi padang terdekat, ane pesen buat ane sendiri ama ane inisiatif beliin nasi ma ayam buat si bapak. Selese pesen, ane bawa tu nasi dua piring ke tempat duduk tadi, trus duduk..
Ane mau langsung ngasi tapi kok ane takut kalo bapaknya salah tangkep ato tersinggung gan, jadi ane akting dikit..
Ane pura-pura dapet telpon dari temen ane
A: (pura2 telpon) yaaah? ga jadi kesini? uda gw beliin nih… ooohh.. gitu… yauda deh gapapa..
*belaga tutup telpon*
A: wah payah nih temen saya,uda dibelikan makanan ternyata ga jadi..
B: (senyum) ya ga papa mas,dibungkus aja nanti bisa dimakan sore..
A: wah, keburu basi pak kalo nanti sore.. dimakan sekarang pasti ga abis.. gimana ya? mmmm… Bapak kan belum makan siang,ini makanan daripada sayang ga ada yang makan gimana kalo bapak aja yang makan pak? nemenin saya makan sekalian pak..
B: waduh mas, saya ga punya uang buat bayarnya..
tepat dugaan ane, dalem ati..
A: gapapa pak, makan aja.. saya bayarin dah! saya lagi ulang taun hari ini..(bo’ong)
B: wah.. beneran ga papa mas? saya malu..
A: lho? ngapain malu pak? udah bapak makan aja..
B: iya mas, selamat ulang tahun ya mas..
A: iya pak.. bapak mau mesen minum sekalian nggak? saya mau pesen..
B: nggak mas.. nggak usah..
Ane manggil tukang minuman, ane mesen 2 es teh manis..
B: lho mas? saya nggak pesen..
A: iya pak, saya beli dua.. haus banget soalnya..(ane bo’ong lagi gan)
Tanpa gw duga gan, si bapak netes aermatanya.. beliau ngucap syukur berkali kali.. beliau ngomong ke ane..
B: mas, saya makasih sudah dibelikan makanan.. saya belum makan dari kemarin sebetulnya. cuma saya malu mas, saya inginnya beli makan sama uang sendiri karena saya bukan pengemis.. saya sebetulnya lapar sekali mas, tapi saya belum dapet uang hasil nyari sampah..
Ane tertegun denger omongan beliau gan, ga sadar ane ikut ngerasa perih banget dalem ati.. nyesek banget dalem ati ane,ane secara ga sadar hampir netesin aermata.. tapi ane berlagak cool..
A: yauda, bapak makan aja nasinya.. nanti kalau kurang saya pesankan lagi ya pak? jangan malu-malu..
B: (masi nangis) iya mas.. makasih banyak ya mas.. nanti yang diatas yang bales..
A: iya pak makasi doanya..

Akhirnya ane makan berdua ama beliau,sambil cerita-cerita..
dari cerita beliau ane tau kalo beliau punya dua anak, yang atu uda meninggal karena kecelakaan. yang atunya uda pergi dari rumah ga pulang-pulang udah 3 tahun. istri beliau uda meninggal kena kanker tahun lalu. dan parahnya lagi rumahnya diambil ama orang kredit gara-gara ga bisa ngelunasin uang pinjaman buat ngobatin istrinya..
Miris banget ane dengerin cerita beliau gan, sebatang kara, ga punya rumah, anaknya durhaka, jarang makan.. malah beliau crita pernah dipalak preman waktu mulung di jakarta..
Rasanya ane beruntung banget ama kondisi ane sekarang, ane nyesel pernah ngeluh tentang kerjaan ane, tentang kondisi kosan ane, dsb.. sedangkan bapak ini dengan kondisi yang serba kekurangan masih selalu tersenyum..
rasanya sepiring nasi padang dan segelas es teh yang ane kasi ga setimpal banget ama pelajaran yang ane dapet..
tadi ane belum ambil uang, jadi ane cuma ngasi seadanya kembalian dari warung padang ke bapak itu,itupun pake eyel2an dulu ma bapaknya soalnya beliau ga mau dikasi uang. tapi akhirnya dengan sedikit maksa ane kasi uang ke beliau. ane didoain banyak banget ama bapak tadi..
Dan ada satu hal yang bikin ane tercengang waktu mau ninggalin tempat tadi..
sambil jalan ane noleh ke belakang, si bapak udah ga ada.. ane cariin bentar,ternyata si bapak ada di depan kotak amal masjid masukin duit ke dalem kotakan itu!
gw makin tersentuh ma beliau.. di tengah-tengah kesulitan yang beliau alami, beliau masi sempet amal! berbagi dengan orang lain..
Ane mewek gan.. ane ngerasa kecil banget sebagai manusia.. ane ngerasa ditunjukin sesuatu yang bener-bener hebat!
Ane berdoa semoga bapak itu dilancarkan segala urusannya, diberi kemudahan dan rejeki berlimpah, dan selalu berada dalam lindungan Tuhan..
Semoga thread ane bisa menjadi bahan renungan buat agan/sista sekalian..


Cinta Yang Indah

Kisah Kadal Yang Terjebak Selama 10 Tahun

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. 
Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.
Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya.
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Sumber:
wowunic.blogspot.com/2013/10/kisah-seekor-kadal-yang-terjepit-selama.html