MENGAPA RIDHO SUAMI ITU SYURGA BAGI PARA ISTRI...
1. Suami
dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia
dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya
seumur hidupmu, bahkan sering kala rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.
2. Suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah
ibunya hingga dia beranjak dewasa.Namun sebelum dia mampu membalasnya,
dia telah bertekad menanggung nafkahmu,
perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.
3. Suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan
anak-anakmu serta dirimu.Padahal dia tahu, di sisi ALLAH, engkau lebih
harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan
dirinya.Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia
mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik
daripadanya di sisi ALLAH.
4. Suami berusaha menutupi
masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri.Sedangkan
engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu
memberi solusi.padahal bisa saja disaat engkau mengadu itu, dia sedang
memiliki masalah yang lebih besar.namun tetap saja masalahmu di utamakan
dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.
5. Suami berusaha
memahami bahasa diammu,bahasa tangisanmu sedangkan engkau kadang hanya
mampu memahami bahasa verbalnya saja.Itupun bila dia telah mengulanginya
berkali-kali.
6. Bila engkau melakukan maksiat,maka dia akan
ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung jawab akan
maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut
ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus
dipertanggung jawabkannya sendiri.
Semoga wanita yg membaca
tulisan ini mendapatkan jodoh yg sholeh dan lelaki pula mendapatkan
jodoh yg sholehah pula yg di Ridhoi ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala..
Aamiin ya Rabbal'alamin..
Showing posts with label Inspired Story. Show all posts
Showing posts with label Inspired Story. Show all posts
Wednesday, March 12, 2014
Untukmu yang sedang menanti
UNTUKMU YANG SEDANG MENANTI
~ Menanti itu bukanlah satu penyiksaan..
~ Menanti itu juga bukan satu beban..
~ Jika kita menantinya dengan ikhlas..
"....Sesungguhnya ALLAH sengaja menguji kita dengan melambatkan sesuatu yang kita dambakan..
"...Sebenarnya ALLAH telah mengatur sesuatu yang lebih baik untuk kita yang sedang menanti..
"...Menantilah dengan penuh kesabaran dan keimanan...
"...Kerana Insyaa Allah...akhir dari penantian itu adalah KEBAHAGIAAN...
"...Jangan pernah berhenti berdoa dan meminta..
"...kerana ALLAH lah yang Maha Memberi..maka tetaplah menanti dengan sabar akan jawaban-NYA...kerana janji ALLAH itu BENAR...YAKINLAH...!!"
Aamiin ya Rabbal'alamin..
Bersyukurlah dengan Yang Kau Punya
Pada suatu hari seorang murid bertanya pada gurunya :
Bagaimana mencari Cinta sejati?
Guru itu menjawab : "Berjalanlah lurus di taman bunga yg luas, petiklah 1 bunga yang terindah menurutmu, dan kamu jangan pernah berbalik ke belakang !"
Kemudian murid itu melaksanakannya dan kembali dengan tangan hampa..
Guru bertanya pada Murid : "Mana bunganya?"
Murid menjawab : "Aku tidak bisa mendapatkannya, sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku berfikir, di depan ada yg LEBIH bagus lagi.. ketika aku telah sampai di ujung taman, Aku baru sadar bahwa yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang.."
Guru : "Seperti itulah cinta sejati, semakin kau mencari yang terbaik, maka kau tak akan pernah menemukannya..
Bagaimana mencari Cinta sejati?
Guru itu menjawab : "Berjalanlah lurus di taman bunga yg luas, petiklah 1 bunga yang terindah menurutmu, dan kamu jangan pernah berbalik ke belakang !"
Kemudian murid itu melaksanakannya dan kembali dengan tangan hampa..
Guru bertanya pada Murid : "Mana bunganya?"
Murid menjawab : "Aku tidak bisa mendapatkannya, sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku berfikir, di depan ada yg LEBIH bagus lagi.. ketika aku telah sampai di ujung taman, Aku baru sadar bahwa yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang.."
Guru : "Seperti itulah cinta sejati, semakin kau mencari yang terbaik, maka kau tak akan pernah menemukannya..
Cinta Tidak Harus dengan BUNGA
SEORANG ISTERI BERCERITA:
Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
“Mengapa?”, tanya suami saya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya.
Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya suami saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?”
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :
“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?”
Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ……
“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”
Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”
“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.”
“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”
“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.
“Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.”
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu.”
“Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”
Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
“Mengapa?”, tanya suami saya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya.
Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya suami saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?”
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :
“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?”
Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ……
“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”
Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”
“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.”
“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”
“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.
“Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.”
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu.”
“Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”
Tuesday, March 11, 2014
Rahasia Seorang Dokter
Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu
dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis
harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan
bersalin pakaian.
Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukah anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?”
Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, “Saudaraku, saya sangat
menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi
begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga anda maklum dan
dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas
ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda”.
Keramahan sang dokter ternyata tidak meredakan amarahan si bapak,
bahkan suaranya mengguntur, “Anda bilang apa? Tenang!? Sedikit pun anda
tidak peduli rupanya, apakah anda bisa tenang jika anak anda yang
sekarat? –semoga Allah mengampuni anda– apa yang akan anda lakukan jika
anak anda meninggal?”.
Sambil tetap mengulas semyum dokter menanggapi, “Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan Allah:
الَّذِينَ Ø¥ِذَا Ø£َصَابَتْÙ‡ُÙ…ْ Ù…ُصِيبَØ©ٌ Ù‚َالُوا Ø¥ِÙ†َّا Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ ÙˆَØ¥ِÙ†َّا Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِ رَاجِعُونَ
“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan, ‘Kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali”.
Dokter itu melanjutkan, “Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman?
Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga dapat
memendekkannya; Usia di tangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat
tenaga untuk menyelamatkan putra anda. Hanya saja kondisi anaknya
kelihatannya cukup parah, oleh karena itu jika terjadi sesuatu yang
tidak kita inginkan ucapkanlah ‘inna lillahi wa`inna ilaihi raji’un.
Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushalla rumah sakit untuk
melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar Ia menyelamatkan anak
anda”. Tambahnya.
Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, “Nasehat itu
memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan
anda”.
Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung
beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergesa-gesa dan berkata kepada
orang tua pasien, “Berbahagialah Pak, al?amdulillah, operasi berjalan
lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi,
perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci.”
Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain,
tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang
anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat. Seketika orang
tua anak itu berkata, “Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikit
pun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak
saya?”
Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata,
“Kemarin putra beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami
hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan putranya itu. Apa
boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu
begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman
putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala
kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak
anda.”
YA ALLAH RAHMATILAH HATI YANG MESKI TERLUKA, NAMUN TIDAK BERBICARA
Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi
Sumber: http://gizanherbal.wordpress.com
Rumah Untuk Orang Tuaku
Sebuah Perenungan..
Suatu hari, seorang ibu duduk membantu anak-anaknya mengulang-ulang
pelajaran sekolah mereka. Ia memberikan sebuah buku gambar kepada
anaknya yang masih kecil berusia empat tahun agar tidak mengganggunya
dalam memberi penjelasan dan pelajaran kepada saudara-saudaranya yang
lain.
Saat itu ia teringat bahwa ia belum menyiapkan makan malam untuk
mertuanya yang sudah berusia lanjut yang hidup bersama mereka dalam
sebuah kamar yang kecil yang khusus dibuat di luar rumah, yang terletak
di beranda rumah mereka.
Biasanya dialah yang melayani dan mengurusnya selama ini. Dan
suaminya merelakan ia melayani dan mengurus orang tuanya yang sudah
tidak bisa beranjak dari kamarnya karena kesehatannya yang sudah
menurun.
Maka iapun bergegas menyiapkan makanan untuknya sebelum pergi. Ia
bertanya kepada mertuanya kira-kira bantuan apa yang bisa dilakukannya?
Kemudian iapun pergi dan kembali mengurus anak-anaknya sebagaimana
biasa.
Ia memperhatikan anaknya yang berusia 4 tahun yang sedang menggambar
lingkaran dan kotak bujur sangkar lalu meletakkan tanda padanya. Si
ibupun bertanya kepada anaknya, “Apa yang sedang engkau gambar nak?”
Si anak menjawab dengan polos, “Aku sedang menggambar rumah yang akan aku tempati sesudah aku besar dan menikah nanti.”
Jawaban anaknya membuat hati si ibu merasa gembira.
Kemudian si ibu bertanya lagi, “Dimanakah engkau akan tidur?”
Kemudian si anak menunjukkan kotak-kotak bujur sangkar dan mengatakan,
“Ini adalah kamar tidur, yang ini ruang dapur dan ini adalah ruang
tamu.” Iapun menyebutkan satu persatu yang ia kenali di dalam rumahnya.
Ia tidak menyisakan sebuah ruangan pun yang ada di dalam rumah dari
gambarnya itu, seluruh ruangannya ia gambar. Kemudian anak tadi
menggambar sebuah kamar yang kecil berada di luar rumah.
Si ibupun kagum dengan anaknya. Kemudian si anak berkata kepadanya,
“Kamar di luar rumah ini untuk ummi, aku akan memberikannya kepada ummi
untuk ditinggali seperti halnya kakek.”
Betapa terkejutnya si ibu mendengar celotehan anaknya itu.
Dalam hati, ia berkata, “Apakah kelak aku akan ditinggal seorang diri
di luar rumah? Di bilik kecil di pekarangan rumah tanpa bisa bersenda
gurau bersama anak dan cucuku? Tidak bisa mengobrol, bercanda dan
bermain bersama mereka ketika aku tidak mampu lagi bergerak? Siapakah
yang dapat aku ajak bicara ketika itu? Apakah aku harus menghabiskan
sisa hidupku seorang diri berteman dinding tanpa bisa mendengar canda
tawa sanak keluargaku?”
Iapun segera memanggil pembantunya agar memindahkan perabot di ruang
tamu. Biasanya ruang tamu adalah ruangan yang paling bagus dan paling
indah dalam sebuah rumah.
Iapun segera memindahkan tempat tidur mertuanya ke kamar tamu setelah
memindahkan perabotan ruang tamu tersebut ke kamar yang berada di
halaman rumah.
Ketika suaminya pulang betapa terkejut dan herannya ia dengan apa
yang dilihatnya. Iapun bertanya kepada istrinya mengapa ia merubah
desain ruang tamunya?
Iapun menjawab dengan air mata berlinang dari kedua matanya. Ia
berkata, “Aku sengaja memilih ruangan yang paling bagus untuk kita
apabila kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita umur panjang dan
kita tidak mampu lagi bergerak. Dan biarkanlah ruang tamu berada di
pekarangan rumah.
Si suamipun paham apa yang dimaksud oleh istrinya. Iapun memuji
tindakan istrinya terhadap orang tuanya, yang memandangi mereka dan
tersenyum dengan pandangan penuh keridhaan.
Lantas si anak menghapus gambarnya dan tersenyum….
Dikutip dari kitab Qishahs Muatstsiratu fi Bir wa ‘Uquuqul Walidain dan telah di terbitkan oleh At-Tibyan dalam edisi Indonesia.
Sepenggal kisah di atas kiranya dapat dijadikan cerminan bagaimana
menjadi anak yang berbakti dan menghargai orang tua kita. Sekaligus
menjadi orang tua yang dapat diteladani bagi anak-anaknya. Orang tua
teladan berarti orang tua yang dapat memberi; kasih sayang,
perlindungan, perhatian, empati, keteguhan, kejujuran, pengertian, rasa
aman, dukungan dan pujian kepada anak-anaknya. Sungguh, barangsiapa yang
menanam kebaikan pasti akan memanen kebaikan pula, sebaliknya
barangsiapa yang menanam kejelekan pasti ia akan memanen kejelekan pula.
Sumber: http://akhiyusuf.wordpress.com
Percakapan Seorang Pemuda dan Ibu
Seorang pemuda terpelajar sedang bepergian dengan naik pesawat dari
Surabaya ke Jakarta. Di kursi sampingnya duduklah seorang ibu separuh
baya dengan pakaian sederhana.
Untuk memecahkan keheningan, si pemuda menyapa dan mengajak ibu itu ngobrol.
“Ibu, ada acara apa ke Jakarta?”
“Oh, saya ke Jakarta untuk “connecting flight” ke Singapura, dik. Mau menengok anak saya yang kedua. Dia bekerja di sana” jawab si Ibu.
“Wah, hebat sekali putra ibu”
Karena rasa ingin tahu yang besar, si pemuda mulai mengorek informasi lebih dalam tentang ibu dan keluarganya itu.
“Kalau saya tidak salah dengar, anak yang di Singapura itu anak kedua ya, Bu? Lalu di mana dengan kakak dan adik2nya?”
“Oh ya, anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat bekerja di perkebunan di Lampung. Yang kelima arsitek di Jakarta. Yang keenam menjadi kepala cabang bank nasional di Purwokerto dan yang ketujuh menjadi dosen di sebuah PT terkemuka di Semarang” jelas sang ibu.
Pemuda itu benar2 takjub, bagaimana sang ibu bisa mendidik anak2nya dengan baik.
Tapi pemuda itu kemudian bertanya, “Lho, yang pertama di mana bu?”
Sambil menghela nafas panjang, si ibu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, Nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar” jawab ibu dengan mata yang menerawang.
“Eh, maaf bu ya, sepertinya ibu agak kecewa dengan anak yang pertama. Karena adik2nya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia hanya seorang petani”
Lebih takjub lagi sang pemuda ketika mendengar jawaban sang ibu…
dengan tersenyum ibu itu menjawab,
“Oooh, tidak begitu nak, justru saya PALING BANGGA dengan anak pertama saya. Karena dialah yang membiayai sekolah semua adik2nya dari hasil dia bertani, dia pula yang memotivasi adik2nya untuk terus berprestasi di pendidikannya hingga dapat meraih beasiswa ke pendidikan tinggi”
Pemuda itu terbengong….
Sahabat, semua orang di dunia ini begitu penting, apapun posisinya. Kadang seseorang yang terlihat remeh ternyata memiliki sesuatu yang luar biasa, jasa yang amat menentukan yang kadang di luar dugaan kita….
Maka, yang paling penting bukanlah SIAPAKAH KAMU? tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN…
Sumber: http://www.facebook.com/ShafaPublikaCommunity
Untuk memecahkan keheningan, si pemuda menyapa dan mengajak ibu itu ngobrol.
“Ibu, ada acara apa ke Jakarta?”
“Oh, saya ke Jakarta untuk “connecting flight” ke Singapura, dik. Mau menengok anak saya yang kedua. Dia bekerja di sana” jawab si Ibu.
“Wah, hebat sekali putra ibu”
Karena rasa ingin tahu yang besar, si pemuda mulai mengorek informasi lebih dalam tentang ibu dan keluarganya itu.
“Kalau saya tidak salah dengar, anak yang di Singapura itu anak kedua ya, Bu? Lalu di mana dengan kakak dan adik2nya?”
“Oh ya, anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat bekerja di perkebunan di Lampung. Yang kelima arsitek di Jakarta. Yang keenam menjadi kepala cabang bank nasional di Purwokerto dan yang ketujuh menjadi dosen di sebuah PT terkemuka di Semarang” jelas sang ibu.
Pemuda itu benar2 takjub, bagaimana sang ibu bisa mendidik anak2nya dengan baik.
Tapi pemuda itu kemudian bertanya, “Lho, yang pertama di mana bu?”
Sambil menghela nafas panjang, si ibu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja, Nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar” jawab ibu dengan mata yang menerawang.
“Eh, maaf bu ya, sepertinya ibu agak kecewa dengan anak yang pertama. Karena adik2nya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia hanya seorang petani”
Lebih takjub lagi sang pemuda ketika mendengar jawaban sang ibu…
dengan tersenyum ibu itu menjawab,
“Oooh, tidak begitu nak, justru saya PALING BANGGA dengan anak pertama saya. Karena dialah yang membiayai sekolah semua adik2nya dari hasil dia bertani, dia pula yang memotivasi adik2nya untuk terus berprestasi di pendidikannya hingga dapat meraih beasiswa ke pendidikan tinggi”
Pemuda itu terbengong….
Sahabat, semua orang di dunia ini begitu penting, apapun posisinya. Kadang seseorang yang terlihat remeh ternyata memiliki sesuatu yang luar biasa, jasa yang amat menentukan yang kadang di luar dugaan kita….
Maka, yang paling penting bukanlah SIAPAKAH KAMU? tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN UNTUK ORANG LAIN…
Sumber: http://www.facebook.com/ShafaPublikaCommunity
Inilah Janji Kami
Janji Sepasang Suami Istri (*Dalam Keridhoan)
Seorang isteri menangis ketika memandikan jenazah suaminya .. sambil menangis isteri berkata,
” Inilah janji kami sebagai suami isteri ..
Jika abang pergi lebih dulu maka engkaulah yang memandikan jenazah abang, Andai engkau yang pergi dulu dari abang, abang yang akan memandikan jenazahmu …”
Jika abang pergi lebih dulu maka engkaulah yang memandikan jenazah abang, Andai engkau yang pergi dulu dari abang, abang yang akan memandikan jenazahmu …”
Dari luar bilik mayat hospital, seorang ustadz masuk dan bertanya
apakah istrinya mau memandikan jenazah suaminya .. ustadz tadi bersama
beberapa orang menemani si isteri memandikan jenazah suaminya ..
Dengan tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa,
” Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayang padamu …
Wahai suamiku .. Semoga Allah ampunkan dosamu dan satukan kita di akhirat nanti ..”
” Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayang padamu …
Wahai suamiku .. Semoga Allah ampunkan dosamu dan satukan kita di akhirat nanti ..”
Saat membasuh tangan jenazah suaminya sambil berkata ..
“Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami … semoga Allah beri pahala untukmu wahai suami ku ..”
“Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami … semoga Allah beri pahala untukmu wahai suami ku ..”
Saat membasuh tubuh jenazah suaminya, iapun berkata…
” Tubuh inilah yang memberi pelukan kasih sayang padaku dan anak-anakku .., semoga Allah beri pahala berganda untukmu wahai suamiku …”
Kemudian saat membasuh kaki jenazah suaminya, kembali ia berkata..
” Dengan kaki ini abang keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku … semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat kali ganda ..”
” Dengan kaki ini abang keluar mencari rezeki untuk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata-mata untuk mencari sesuap nasi, terima kasih suamiku … semoga Allah memberimu kenikmatan hidup di akhirat dan pahala yang berlipat kali ganda ..”
Selesai memandikan jenazah suaminya, si isteri mengecup sayu suaminya dan berkata ..
“Terima kasih suamiku .. karena aku bahagia sepanjang menjadi
isterimu dan terlalu bahagia .. dan terima kasih karena meninggalkan aku
bersama permata hatimu yang persis dirimu .. dan aku sebagai seorang
istri ridha akan kepergianmu karena kasih sayang Allah kepadamu …”
Sumber: http://on.fb.me/19HiskL (dengan perubahan)
Sepenggal Doa Ibunda
Kasih Bunda Sepanjang Masa..
“Masa silam saya kelam,” ucap anak muda itu mengenang masa lalunya.
Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan
pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek.
Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat
wajahnya menyimpan keteduhan.
“Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,” lanjut
pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang
adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk
coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu.
Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut,
fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu
pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat
terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.
“Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah
yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,”
tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang
diiris-iris untuk diisap darahnya.
Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang
diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat
sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan
diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus
disodori barang-barang terlarang.
Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula
nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi
tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu
setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis
benar-benar mencengkeramnya.
“Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua
saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,”
akunya. “Namun, ibu saya tidak setuju,” paparnya sendu mengenang hal
itu.
Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan
masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering
diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang
mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari
orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan.
Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.
Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan
apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan
dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua
karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga
tercoreng.
Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap
sabar. “Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi
kelembutan kepada saya,” kenangnya. Ia berusaha untuk tidak menitikkan
air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak
muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan
bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.
Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat
tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada Allah
Subhanallahu wa Ta’ala. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk,
sujud, zikir, dan doa. “Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya
tatap ibu yang terselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau
berkedip. Saya tatap terus ibu,” ucapnya sungguh-sungguh.
Ia melanjutkan, “Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan.
Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya
bertobat,” kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.
Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis.
Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh.
Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti
kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna.
Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput
dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak Allah Subhanallahu wa
Ta’ala.
Kisah di atas nyata, diungkapkan langsung kepada penulis sekitar tahun 1980-an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang
sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam
ash-Shahihah no. 598 dan 1797)
[kisah ini diambil dari tulisan panjang Al-Ustadz Abulfaruq Ayip
Syafruddin berjudul: Sepenggal Doa Ibunda, dalam majalah Asy Syariah no.
76/VII/1432 H/2011, hal. 29-30]
Ane Mewek Baca Kisah ini....
Ane Mewek Baca Kisah Ini...
*Ngerasa kecil bgt jd manusia..
Barusan ane istirahat makan di kantor ane,kebetulan kantor ane di
daerah yang lumayan ‘minus’ sih gan.. kalo agan-agan yang ada di Jakarta
mungkin tau daerah Stasiun Kota kaya gimana.
Banyak pengemis, gelandangan dan orang-orang yang tingkat kehidupannya (maaf) dibawah kesejahteraan.
Sebelum nyari makan, ane beli rokok dulu gan biar tar abis makan ga bingung nyari rokok.. Ane nyalain satu batang..
Sambil ngerokok ane jalan buat nyari tempat yang enak buat duduk dan makan.
sampe akhirnya ane nemu sebuah tempat yang menurut ane enak dan
teduh,ane celingukan soalnya semua tempat duduk uda dipake orang-orang.
Di sela-sela celingukan ane, seorang bapak tua bilang ke ane:
“Silakan pak, disini aja duduk sama saya” katanya..
ane iyain aja gan, meskipun rada panas tapi yang ada cuman disitu doang..
Ane perhatiin bapak itu gan, orangnya uda tua banget, kurus, giginya
uda ompong,rambutnya uda putih semua, bawa-bawa tas besar ama kresek
isinya plastik-plastik gitu..
Ane ga sempat foto gan,ga enak juga kalo ane moto2, tar dikira apaan..
Dimulailah obrolan ane ama bapak itu gan,
Ane : A
Bapak: B
A: lagi nunggu apa pak?
B: nggak mas, ini cuma duduk-duduk aja abis cari sampah seharian.. capek..
A: Jalan dari jam brapa pak?
B: dari pagi mas, uda lumayan banyak dapetnya ini..
A: oohhh…
Obrolan sempat brenti bentar gan, ane nikmatin rokok, bapaknya ngerapiin plastik2nya gitu..
Sampe pada akhirnya ane liat si Bapak pijet2in kepalanya gitu sambil hela napas panjang..
A: pusing ya pak? siang2 panas gini emang bikin pusing..
B: (ketawa kecil) iya mas.. agak pusing kepala saya..
A: bapak ngerokok? ini kalau bapak mau.. (sambil ane sodorin rokok ane yang tinggal sebatang)
B: nggak mas makasih, saya nggak ngerokok.. sayang uangnya,mending
buat makan daripada beli rokok.. lagian ga bagus juga buat badan.
Dalem ati gw rada tertohok juga gan..
A: iya juga sih pak.. (nginjek rokok ane)
Abis itu gw denger suara perut gan.. *kruuuuukk* gitu..
gw spontan noleh ke arah si bapak.
A: Bapak belum makan pak?
B: (senyum) belum mas, aga nanti mungkin..
A: wah, tar tambah pusing pak?
B: iya mas, saya udah biasa kok..
ga lama, kedengeran lagi bunyi perutnya gan..
A: Bapak beneran ga mau makan pak?
B: iya mas,nanti aja…
gw uda ngerasa kalo bapak ini bukannya ga mau makan gan,tapi beliau ga punya uang buat makan..
A: bentar ya pak, saya ke warung dulu pesen makan..
B: oh.. iya mas, silakan..
ane nyamperin tukang nasi padang terdekat, ane pesen buat ane sendiri
ama ane inisiatif beliin nasi ma ayam buat si bapak. Selese pesen, ane
bawa tu nasi dua piring ke tempat duduk tadi, trus duduk..
Ane mau langsung ngasi tapi kok ane takut kalo bapaknya salah tangkep ato tersinggung gan, jadi ane akting dikit..
Ane pura-pura dapet telpon dari temen ane
A: (pura2 telpon) yaaah? ga jadi kesini? uda gw beliin nih… ooohh.. gitu… yauda deh gapapa..
*belaga tutup telpon*
A: wah payah nih temen saya,uda dibelikan makanan ternyata ga jadi..
B: (senyum) ya ga papa mas,dibungkus aja nanti bisa dimakan sore..
A: wah, keburu basi pak kalo nanti sore.. dimakan sekarang pasti ga
abis.. gimana ya? mmmm… Bapak kan belum makan siang,ini makanan daripada
sayang ga ada yang makan gimana kalo bapak aja yang makan pak? nemenin
saya makan sekalian pak..
B: waduh mas, saya ga punya uang buat bayarnya..
tepat dugaan ane, dalem ati..
A: gapapa pak, makan aja.. saya bayarin dah! saya lagi ulang taun hari ini..(bo’ong)
B: wah.. beneran ga papa mas? saya malu..
A: lho? ngapain malu pak? udah bapak makan aja..
B: iya mas, selamat ulang tahun ya mas..
A: iya pak.. bapak mau mesen minum sekalian nggak? saya mau pesen..
B: nggak mas.. nggak usah..
Ane manggil tukang minuman, ane mesen 2 es teh manis..
B: lho mas? saya nggak pesen..
A: iya pak, saya beli dua.. haus banget soalnya..(ane bo’ong lagi gan)
Tanpa gw duga gan, si bapak netes aermatanya.. beliau ngucap syukur berkali kali.. beliau ngomong ke ane..
B: mas, saya makasih sudah dibelikan makanan.. saya belum makan dari
kemarin sebetulnya. cuma saya malu mas, saya inginnya beli makan sama
uang sendiri karena saya bukan pengemis.. saya sebetulnya lapar sekali
mas, tapi saya belum dapet uang hasil nyari sampah..
Ane tertegun denger omongan beliau gan, ga sadar ane ikut ngerasa
perih banget dalem ati.. nyesek banget dalem ati ane,ane secara ga sadar
hampir netesin aermata.. tapi ane berlagak cool..
A: yauda, bapak makan aja nasinya.. nanti kalau kurang saya pesankan lagi ya pak? jangan malu-malu..
B: (masi nangis) iya mas.. makasih banyak ya mas.. nanti yang diatas yang bales..
A: iya pak makasi doanya..
Akhirnya ane makan berdua ama beliau,sambil cerita-cerita..
dari cerita beliau ane tau kalo beliau punya dua anak, yang atu uda
meninggal karena kecelakaan. yang atunya uda pergi dari rumah ga
pulang-pulang udah 3 tahun. istri beliau uda meninggal kena kanker tahun
lalu. dan parahnya lagi rumahnya diambil ama orang kredit gara-gara ga
bisa ngelunasin uang pinjaman buat ngobatin istrinya..
Miris banget ane dengerin cerita beliau gan, sebatang kara, ga punya
rumah, anaknya durhaka, jarang makan.. malah beliau crita pernah dipalak
preman waktu mulung di jakarta..
Rasanya ane beruntung banget ama kondisi ane sekarang, ane nyesel
pernah ngeluh tentang kerjaan ane, tentang kondisi kosan ane, dsb..
sedangkan bapak ini dengan kondisi yang serba kekurangan masih selalu
tersenyum..
rasanya sepiring nasi padang dan segelas es teh yang ane kasi ga setimpal banget ama pelajaran yang ane dapet..
tadi ane belum ambil uang, jadi ane cuma ngasi seadanya kembalian
dari warung padang ke bapak itu,itupun pake eyel2an dulu ma bapaknya
soalnya beliau ga mau dikasi uang. tapi akhirnya dengan sedikit maksa
ane kasi uang ke beliau. ane didoain banyak banget ama bapak tadi..
Dan ada satu hal yang bikin ane tercengang waktu mau ninggalin tempat tadi..
sambil jalan ane noleh ke belakang, si bapak udah ga ada.. ane cariin
bentar,ternyata si bapak ada di depan kotak amal masjid masukin duit ke
dalem kotakan itu!
gw makin tersentuh ma beliau.. di tengah-tengah kesulitan yang beliau
alami, beliau masi sempet amal! berbagi dengan orang lain..
Ane mewek gan.. ane ngerasa kecil banget sebagai manusia.. ane ngerasa ditunjukin sesuatu yang bener-bener hebat!
Ane berdoa semoga bapak itu dilancarkan segala urusannya, diberi
kemudahan dan rejeki berlimpah, dan selalu berada dalam lindungan
Tuhan..
Semoga thread ane bisa menjadi bahan renungan buat agan/sista sekalian..
Sumber: http://www.kaskus.co.id
Cinta Yang Indah
Kisah Kadal Yang Terjebak Selama 10 Tahun
Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.
Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.
Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang
terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor
kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada
sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia
mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu
ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu
adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu
berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa
berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu,
apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan
makanan di mulutnya.
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal
lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10
tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi
bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat
dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu
tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan
pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu
dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
Sumber:
wowunic.blogspot.com/2013/10/kisah-seekor-kadal-yang-terjepit-selama.html
Subscribe to:
Posts (Atom)